Jadi fresh graduate itu, adalah suatu masa dimana
kamu harus berusaha melawan semua ujian yang bersifat pilihan hidup. Ujian itu banyak
sekali. Mulai dari pekerjaan hingga sapi tetanggamu yang melahirkan anak tiga. Aku jabarkan saja. Ketika aku pada
masa nganggur seperti ini aku hanya bisa apply ke perusahaan-perusahaan yang
kira-kira cocok sama kriteria yang aku miliki, sebenarnya banyak pekerjaan yang
sangat membutuhkan lulusan dari jurusanku, tapi, aku bukanlah seorang mahasiswa
yang baik dan pintar, jadi pekerjaan-pekerjaan tersebut tidak bisa aku lamar. Syarat
dari perusahaan-perusahaan itu untuk jurusanku harus menguasai beberapa bidang
ilmu, dimana aku, seorang mahasiswa yang bodoh ini tidak menguasainya sama
sekali. Ya sudah lah, lupakan pekerjaan-pekerjaan itu.
Ujian yang lain adalah melanjutkan sekolah
magister. Jaman semakin maju, untuk beberapa tahun ke depan, mungkin lulusan S1
sepertiku sudah tidak akan dilirik lagi, apalagi aku sering membaca beberapa
kisah tentang orang luar negri sana yang sedang mengambil magister atau Phd, kadang
ketika membacanya aku kagum dan sedikit kepingin.
Untukku, mengambil S2 adalah sebuah cara yang menguntungkan, dimana aku bebas
dari tanggungan harus bekerja, aku juga bisa menambah ilmu, mendapat
pengalaman baru, dan yang pasti bakalan seru banget, apalagi kalau aku kuliah di luar negri,
pasti aku akan sangat bangga sekali, bisa foto di tempat-tempat terkenal, bahkan kalau aku foto di pinggir jalan hasilnya pasti tetep aesthetic.
Tapi aku ragu lagi, ya, aku jadi ingat aku
bukanlah seorang mahasiswa yang pintar, jika aku harus melanjutkan sekolahku
aku sepertinya harus belajar mulai dari nol lagi dan itu susah, membutuhkan
waktu yang lama juga. Apalagi jika aku kuliah di luar negri, banyak hal yang
aku takutkan, mulai dari tempat tinggal, bagaimana aku hidup, bagaimana aku
menyokong ekonomiku, aku harus mengerti kuliahku, bagaimana aku harus menyelesaikan
semua tugas-tugasku dengan baik, dll. Padahal aku bukanlah seorang mahasiswa
yang baik, yang pintar. Tidak heran banyak orang berkata “tinggal di negara
orang itu susah”. Ya, memikirkannya saja aku takut. Ya sudah, lebih baik aku
bekerja saja.
Sambil menulis ini aku berpikir bahwa tokoh utama
dalam tulisan ini benar-benar pengecut, masih 22 tahun tapi seperti akan mati
besok. Tapi aku berpikir lagi, kalau semua tidak dipikirkan matang-matang seperti
ini lalu siapa yang akan tanggung jawab terhadap rasa kecewaku di masa depan?
Tentu saja aku sendiri.
Dengan segala keihklasan, segala pemikiran, iya,
aku ingin bekerja saja. Negri ini sudah nyaman untuk ditinggali, aku tidak akan
ke luar negri, apalagi harga indomie di luar negri sampai 13 ribu. Walaupun bekerja
itu tanggung jawabnya berat, tekanan tinggi, dan aku harus benar-benar ekstra
mandiri, aku tetap memilih untuk bekerja.
Aku lulus kuliah, sidang lebih tepatnya tanggal 15
Desember 2017, sudah hampir dua bulan setelah sidang aku menganggur, sehingga
kegiatanku sehari-hari hanya tidur. Mungkin lebih baik jika aku ikut kerja
sosial, ada saran? Jujur saja aku orangnya tidak terlalu gampang bergaul, jadi
aku agak ragu, jika aksiku malah menjadi pengganggu untuk mereka.
Selama dua bulan ini aku sudah mendaftar pekerjaan
ke dua perusahaan, Astra semua. Semoga aku bisa lolos untuk bekerja di tempat
pertama aku mendaftar, yaitu Toyota Astra, amin. Aku siap mengabdikan diriku
untuk pekerjaanku.
Sekarang aku akan mencari pekerjaan baru lagi yang
bisa ku daftar, semoga aku dapat pekerjaan secepatnya. Amin. Hehe.
Salam Honje XOXO

