Senin, 12 Februari 2018


(src: Google)
Sungguh hari-hari setelah lulus kuliah itu sangat membosankan. Ketika dulu masih kuliah, bisa ke kampus buat kuliah, ngobrol sama anak-anak, ngerjain tugas, dsb. Ketika semester terakhir, dimana aku cuma ambil skripsi saja aku masih bisa ngampus buat alasan ngerjain skripsi, pergi ke perpustakaan cari wangsit, atau bimbingan skrispsi. Tapi sekarang sudah nggak ada alasan lagi buatku buat nggak nganggur karena aku adalah pengangguran ._.
Jadi fresh graduate itu, adalah suatu masa dimana kamu harus berusaha melawan semua ujian yang bersifat pilihan hidup. Ujian itu banyak sekali. Mulai dari pekerjaan hingga sapi tetanggamu yang melahirkan anak tiga. Aku jabarkan saja. Ketika aku pada masa nganggur seperti ini aku hanya bisa apply ke perusahaan-perusahaan yang kira-kira cocok sama kriteria yang aku miliki, sebenarnya banyak pekerjaan yang sangat membutuhkan lulusan dari jurusanku, tapi, aku bukanlah seorang mahasiswa yang baik dan pintar, jadi pekerjaan-pekerjaan tersebut tidak bisa aku lamar. Syarat dari perusahaan-perusahaan itu untuk jurusanku harus menguasai beberapa bidang ilmu, dimana aku, seorang mahasiswa yang bodoh ini tidak menguasainya sama sekali. Ya sudah lah, lupakan pekerjaan-pekerjaan itu.
Ujian yang lain adalah melanjutkan sekolah magister. Jaman semakin maju, untuk beberapa tahun ke depan, mungkin lulusan S1 sepertiku sudah tidak akan dilirik lagi, apalagi aku sering membaca beberapa kisah tentang orang luar negri sana yang sedang mengambil magister atau Phd, kadang ketika membacanya aku kagum dan sedikit kepingin
Untukku, mengambil S2 adalah sebuah cara yang menguntungkan, dimana aku bebas dari tanggungan harus bekerja, aku juga bisa menambah ilmu, mendapat pengalaman baru, dan yang pasti bakalan seru banget, apalagi kalau aku kuliah di luar negri, pasti aku akan sangat bangga sekali, bisa foto di tempat-tempat terkenal, bahkan kalau aku foto di pinggir jalan hasilnya pasti tetep aesthetic.
Tapi aku ragu lagi, ya, aku jadi ingat aku bukanlah seorang mahasiswa yang pintar, jika aku harus melanjutkan sekolahku aku sepertinya harus belajar mulai dari nol lagi dan itu susah, membutuhkan waktu yang lama juga. Apalagi jika aku kuliah di luar negri, banyak hal yang aku takutkan, mulai dari tempat tinggal, bagaimana aku hidup, bagaimana aku menyokong ekonomiku, aku harus mengerti kuliahku, bagaimana aku harus menyelesaikan semua tugas-tugasku dengan baik, dll. Padahal aku bukanlah seorang mahasiswa yang baik, yang pintar. Tidak heran banyak orang berkata “tinggal di negara orang itu susah”. Ya, memikirkannya saja aku takut. Ya sudah, lebih baik aku bekerja saja.
Sambil menulis ini aku berpikir bahwa tokoh utama dalam tulisan ini benar-benar pengecut, masih 22 tahun tapi seperti akan mati besok. Tapi aku berpikir lagi, kalau semua tidak dipikirkan matang-matang seperti ini lalu siapa yang akan tanggung jawab terhadap rasa kecewaku di masa depan? Tentu saja aku sendiri.
Dengan segala keihklasan, segala pemikiran, iya, aku ingin bekerja saja. Negri ini sudah nyaman untuk ditinggali, aku tidak akan ke luar negri, apalagi harga indomie di luar negri sampai 13 ribu. Walaupun bekerja itu tanggung jawabnya berat, tekanan tinggi, dan aku harus benar-benar ekstra mandiri, aku tetap memilih untuk bekerja.
Aku lulus kuliah, sidang lebih tepatnya tanggal 15 Desember 2017, sudah hampir dua bulan setelah sidang aku menganggur, sehingga kegiatanku sehari-hari hanya tidur. Mungkin lebih baik jika aku ikut kerja sosial, ada saran? Jujur saja aku orangnya tidak terlalu gampang bergaul, jadi aku agak ragu, jika aksiku malah menjadi pengganggu untuk mereka.
Selama dua bulan ini aku sudah mendaftar pekerjaan ke dua perusahaan, Astra semua. Semoga aku bisa lolos untuk bekerja di tempat pertama aku mendaftar, yaitu Toyota Astra, amin. Aku siap mengabdikan diriku untuk pekerjaanku.
Sekarang aku akan mencari pekerjaan baru lagi yang bisa ku daftar, semoga aku dapat pekerjaan secepatnya. Amin. Hehe.

Salam Honje XOXO

Sabtu, 10 Februari 2018

Jumat, 09 Februari 2018



Halo! Selamat malam! Kali ini aku mau berbagi pengalamanku setelah aku lulus kuliah dan mencari perkerjaan. Hehe, iya, aku sudah lulus kuliah, lebih tepatnya tanggal 15 Desember 2017 aku sudah dinyatakan lulus oleh dosen penguji skripsiku, namun yudisiumku lumayan lama yaitu tanggal 26 Januari 2018, jadi aku kurang paham tepatnya aku lulus kuliah. Yang jelas, aku sudah lulus kuliah dan menjadi seorang fresh graduate, benar-benar fresh, oke, alias pengangguran.
Jadi pengangguran itu bener-bener nggak enak loh, kegiatannya cuma gitu-gitu aja. Makan tidur poop. Siklusnya tiap hari gitu terus. Kalau bosen ya nonton film atau scroll Instagram sampai kuotanya habis. Kadang rasanya sampai mual karena overdosis kengangguran.
Sebenarnya cerita nganggur ini bisa dimulai sejak aku masih mengerjakan skripsi, karena untukku butuh waktu dua semester untuk mengerjakan skripsi, padahal aslinya bisa lebih cepat, ya tapi Alhamdulillah udah lulus. Hmmm, syukuri aja.
Ketika dan setelah aku mengerjakan skripsi dimana cerita nganggur sebenarnya bisa dimulai banyak sekali hal-hal yang aku sesalkan, seperti dulu aku terlalu santai dan mengambil skripsi. Aku baru mengambil ketika semester 8, bukan 7, waktu itu aku yakin kalau aku bisa menyelesaikan skripsi satu semester, tapi kenyataannya pahit, nggak.
Hal lain yang aku sesalkan yaitu aku yang terlalu lama ketika mengerjakan skripsi, iya, banyak nganggurnya, karena aku stuck di momen-momen tertentu terutama masalah implementasi. Aku sungguh menyesal, tapi yang aku rasakan saat itu, batas kemampuanku hanya sampai disitu. Mungkin jika aku berusaha lebih keras dan nggak males-malesan aku akan mendapat lebih. Ya hal yang aku sesalkan kedua intinya adalah ketika aku mengerjakan skripsi aku males-malesan. Rasanya pengen menabok diriku pada masa lalu.
Sebagai informasi, skripsi pada jurusanku itu meliputi banyak hal setelah metodologi penelitian, yaitu ada perancangan, implementasi, dan pengujian sebelum semuanya disimpulkan. Total bab ada 7 dan setiap bab mempunyai tantangan sendiri terutama masalah implementasi yang menjadi sebuah tembok penghalang untuk semua mahasiswa fakultasku menyelesaikan skripsi. Tapi semuanya sudah terlanjur, tidak ada yang perlu disesali lagi. Aku juga sudah berusaha.
Selain penyesalan, tentu saja skripsi ini membawa banyak cerita yang tentu saja semua jelek. Tidak ada cerita yang baik dari skripsi sejak zaman dulu. Namun cerita-cerita itu tidak semuanya adalah hal yang pahit, banyak manisnya (rasa).
Cerita-cerita itu diantaranya adalah ketika kamu harus ganti judul yang berarti kamu harus mengganti semuanya dari cover, termasuk latar belakang, tinjauan pustaka dst. Namun pergantian judul ini tidak begitu berarti bagiku karena pada saat itu semangat skripsiku sedang 45, jadi walaupun ganti judul aku malah mengerjakannya dengan cepat, aneh kan? Ya aneh lah, ketika judul lama saja aku bisa menghabiskan satu semester lebih tapi ketika ganti judul malah cepet. Eh, nggak aneh, itu wajar. Progress skripsi berbanding lurus dengan semangat. Jadi, ketika seseoarang ngerjain skripsinya nggak semangat maka skripsinya jadi lama. Sesulit apapun kalau semangat, jatuhnya lebih cepet kelar. Beda cerita kalau males-malesan + nggak semangat, sampai DO juga skripsi nggak bakal selesai. Aku bisa ngomong semua itu karena pengalamanku sendiri. Ketika waktu-waktu pergantian judul, aku pas rajin-rajinnya ke kampus, ke perpus, bolak-balik benerin implementasi. Semester sebelumnya? Beuh, jangan harap aku bakalan menginjakkan kakiku ke kampus. Aku ....... sedih lah kalau diceritain ulang.
Biar lebih jelas tentang waktu aku mengerjakan skripsi, detailnya sebagai berikut. Aku mengerjakan skripsi judul lamaku itu satu semester lebih, kemudian mengerjakan judul baru bab awal-awal dan implementasi cukup beberapa hari, ketika judul akhir waktunya sekitar satu bulan.
Beda jauh antara judul lama dan judul akhir, semuanya karena semangat. Waktu itu aku sudah benar-benar nggak tahan kuliah terus, pengen lulus. Itulah sumber semangatku, aku sumber semangat diriku sendiri. Kalau masalah implementasi yang biasanya jadi penghalang, waktu itu implementasinya sudah selesai, hehe,  jadi tinggal ganti-ganti variabel, udah deh, hehe (nggak lucu) tapi bikin implementasinya makan waktu satu semester sendiri (selesai saat judul lama).
Kemudian cerita lainnya adalah tentang menunggu. Ini adalah cobaan paling berat saat skripsi, menunggu. Awalnya kamu hanya menunggu dosen pembimbing untuk bimbingan hingga akhirnya kamu menunggu antrian untuk daftar sidang, menunggu antrian semhas, menunggu antrian sidang, menunggu antrian yudisium, dan puncaknya menunggu antrian wisuda. Btw aku belum wisuda.
Ya semua cerita diatas tentang skripsiku itu jelek. Penuh penyesalan, penuh ganti-ganti, penuh penantian. Tapi seperti yang aku katakan sebelumnya, tidak semuanya jelek. Banyak hal manis. Semua hal indah jika sudut pandang kita sedikit berganti. Sebagai contoh, ketika aku semhas dan sidang banyak sekali teman-teman yang datang untuk memberi support, aku terharu. Kadang aku merasa seperti kurang menjadi seorang teman untuk kalian tapi kalian masih mau memberikan cinta terhadapku dan selalu membuka tangan lebar-lebar untuk menyelamatiku yang berhasil kabur dari penculikan salah satu jenis hantu lokal terbaru bernama skripsi (kalau luar negri namanya thesis dong).
Selain itu, hal manis lain adalah, aku mendapatkan pelajaran baru untuk hidupku seterusnya yaitu:
1.       No males-malesan, pasti nyesel.
2.       Selalu semangati dirimu sendiri.
3.       Sabar, berusaha, semua kepedihan pasti berakhir
Sekian dulu ya kisah saya, karena aku nulisnya malam, aku ngantuk berat.
Good Night. XOXO