Jumat, 30 Maret 2012

kamu tahu siapa?

iseng-iseng pengen nulis ff tentang SHINee, bukannya gimana2, soalnya kalo kyuhyun nggak tega nulisnya, kalo big bang atau 2ne1 gak tega juga. tapi kalo shinee enak buat ditulis dan dibaca, soalnya mudah dibayangin dan pasti menarik kalo tokoh2nya pesonil mereka (pengalaman pribadi)
oh ya, kadang2 mungkin banyak yang bingung kalo aku lagi di depan pc atau hp senyum-senyum sendiri atau ketawa ngakak atau suka nunjukin ekspresi2 aneh, ya, semua karena SHINee, mereka keren (y)
oh ya, ff-nya gaje terus Indonesia banget bahasanya.

Cast: Lee Yura (main cast)
         Kang Hye Ji (Yura's friend)
         Shinee's member

Genre: Remaja (?)
Rating: PG 15


“selamat pagi anak-anak” sapa Bu Reika yang langsung saja masuk ke kelas saat bel masuk bunyi
“selamat pagi bu” jawab anak-anak serempak
“keluarkan Buku Paket Matematika kalian”
Kompak anak-anak mengeluarkan buku paket matematika mereka dari tas.
“ddrrrrttttt” (anggap aja suara getar hp)
Lima menit kemudian
“ddddrrrrrttt” ‘siapa nih yang sms’ tanya Yura hati.
Nggak ada sepuluh menit, sudah ada lima getaran lebih di saku rok Yura, sampai pada akhirnya pergantian jam masih saja hp-nya bergetar menandakan sms masuk.
*sudut pandang Yura*
‘siapa nih, mana nggak berhenti-henti lagi’ ujarku dalam hati. Tanpa sadar aku mendesah keras dan Hye Ji menoleh ke arahku dengan pasang muka bengong.
“Yura, kamu kenapa?” tanyanya. “emm, gakpapa kok” lalu aku kembali menatap buku matematiku dan mendengarkan setiap ocehan Bu Reika. Sebenarnya aku sudah tidak konsen lagi dengan pelajaran ini, tetapi bukan karena sms, melainkan karena memang sudah kebiasaanku yang cepat bosan dengan pelajaran, apalagi matematika.
“ya ampun, aku udah nggak tahan” ujarku cepat.
“heh, kamu mau apa sih Yura?” tanya Hye Ji lagi
“aku mau ke toilet” jawabku singkat. Hye Ji tertawa kecil saat mendengar jawabanku.
“kau ini aneh-aneh saja, maksudmu dari tadi kau kebelet? Xixixixi” kali ini aku melirik tajam ke Hye Ji, sungguh tidak lucu, aku harap dengan lirikanku ini Hye Ji bisa diam, tapi dia palah semakin ngakak.
“Bu, saya mau ijin ke toilet” kataku sambil mengacungkan tangan
“oh ya, silakan. Tapi jangan lama-lama”
“iya bu” langsung saja aku pergi ke luar kelas dan berlari ke toilet. Entah kenapa aku merasa harus berlari, walau sesungguhnya berjalan santipun bisa, karena toilet juga tidak jauh dari kelasku.
Sampai di toilet aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Aman, saatnya aku keluarkan hp kesayanganku.
“apa? 50 sms? Pukul setengah sembilan pagi?” ujarku reflex saat membuka hp yang bertuliskan 35 sms baru. Aku buka satu persatu sms tadi, tapi, ternyata semua dari nomer yang sama, nomer yang tidak aku kenal. Isi smsnya juga kebanyakan sama, hanya ada 5 sms yang berbeda, jadi dia mengirim ulang satu sms selama sepuluh kali ke ponselku? Dasar spammer, sukanya menuh-menuhin inbox orang aja.
‘Halo selamat pagi’ ‘Selamat begulat dengan Bu Reika’ ‘Eh salah, maksudku dengan matematika’ ‘Jangan lupa konsentrasi, ingat? Konsentrasi… pada pelajaran’ ‘Fighting!!! ^^’
Itulah sms yang dia kirim padaku, setelah ku baca, aku memberinya predikat spammer. Nggak penting banget sms kaya gitu.
“dddrrrrrtttt” hpku bergetar lagi!
From: 08978675123
‘Hey, jangan jadikan alasan ke toilet untuk membaca smsku’
Haah? Dia tahu aku sedang di toilet dan membaca sms? Ku toleh kanan kiri tidak ada siapa-siapa sepi sekali.
From: Yura
To: 08978675123
‘Kau siapa?’
From:08978675123
‘aku tentu saja temanmu’
From: Yura
To: 08978675123
‘temanku banyak, namamu yang ku butuhkan’
Lama sekali balasan darinya, tapi ku tetap menunggu.
From: 08978675123
‘maaf lama, namaku…….. aku temanmu kok, percaya padaku’
Sial, kenapa dia seperti ini. Rutukku dalam hati aku capek, sudahlah, yang namanya spammer memang spammer, mau digimanain juga kalo udah sekali nyampah nggak bakal berhenti.
From: Yura
To: 08978675123
‘kalau kau hanya mengirim sms tak berguna itu padaku. Jangan kirimi aku pesan lagi!!!! :@’
Aku jengkel melihat tulisan-tulisan di inboxku, sebaiknya aku kembali ke kelas.
“Bu Reika” ternyata dia sudah di belakangku,aku nyletuk refleks. Aduh mati!
“kelakuan anak muda jaman sekarang” ucap Bu Reika dengan nada super menyindir.
“oh Bu, ini, saya baru saja membalas sms dari ibu saya. Penting” alasanku, padahal keringat sudah mengalir deras di seluruh pori-poriku. Pasti kalau aku berkaca, muka sudah merah. Kalau saja bukan Bu Reika yang killer ini, pasti aku santai saja.
“hmmm” Bu Reika hanya menjawab itu. Senyum, ya, hanya senyum yang bisa aku berikan.
“hmmm” Bu Reika berdehem yang tidak seperti berdehem (?) sambil mengacungkan telunjuknya di pergelangan tangan. Jam! Langsung ku toleh jam di tanganku. Ternyata sudah jam sembilan, ahhh, tolol, aku menghabiskan setengah jam di toilet.
“serahkan hpmu”
“eh, ta tadi itu kan bu” slap, sekejab mata hpku sudah ditanagn Bu Reika.
“aku sita, sampai kau mengambilnya sendiri di kantor” uar Bu Rika sambil bejalan memunggungiku
“bu bu bu bu bu” aku membela tapi suara gagap yang keluar. Ahh, matilah sudah.
Aku berjalan ke kelas dengan gontai, ternyata sepi sekali di kelas, hanya ada Jinki dan Hye Ji yang sedang makan bekal berdua.
“Yura, kamu kenapa?” Hye Ji panik melihat langkah gontaiku
“hp-ku, hp-ku disita” aku menangis dan menghambur ke pelukan Yura.
“jadi kau ini, bermain hp di toilet?” kata Hye Ji kaget
“iya” aku maih sesenggukan di pelukan Hye Ji.
“kami kira kamu kenapa-napa sehingga Bu Reika pergi ke toilet untuk tahu keadaanmu. Tapi ternyata, kamu”
“sudah, kau tak menghiburku” potongku sambil menangis
Ku rasa Jinki menjitak kepalah Hye Ji. Tapi Hye Ji hanya mendesah pelan.
“sudah,  kau minta lagi saja” saran Jinki
“aku malu” jawabku sambil terus menangis
“hilangkan rasa malumu. Nanti aku temani ke Bu Reika”
“ya” jawabku sambil mengusah air mata yang jatuh di pipi (?)
***sampai di rumah***
“aku pulang”
“baru pulang?” ujar seorang laki-laki di ruang tamu
“ayah? Udah pulang?” aku kaget, ternyata ayah sudah pulang, padahal dia kan kalau pulang jam enam-an. Sekarang baru jam tiga.
“ayah kan sudah menelponmu kalau ayah pulang pagi. Tapi kamu hp-mu tidak aktif”
Hp? Waduh, hp-ku kan disita. Gimana nih?
“iya yah, habis batrenya” alasanku.
“oh ya, ayah pinjam hp-mu sebentar, ayah ingin lihat bagian mana yang rusak” oh ya, aku kan pernah bilang ke ayah kalau hp-ku rusak.
“emm,, ayah, aku charge dulu deh hp-nya”
“nggak usah, nanti ayah yang charge” mati aku!
“yah, sebenarnya…. Emmmm” aku takut
“apa?”
“tadi itu ada……”
“apa?” ayah melotot, aku nggak kuat
“hp-ku hilang ayah” ujarku cepat. Aku bahkan tidak sadar barusan ngomong apa.
“kok bisa?” ayah pasang muka penasaran
“nggak tahu, tiba-tiba nggak ada. Udah aku cari di saku nggak ada, di tas nggak ada, di sekolah juga” aku panik, maaf ayah, aku bohong.
“apa? Dasar ceroboh!!” ayah yang sedang menonton tv mendadak mematikan tv.
“kau punya tabungan berapa?”  ayah melirikku
“emm, nggak tahu yah”
“pakai tabunganmu buat beli hp, sekarang. Ayah antar kamu ke toko hp, pokoknya kamu harus punya hp, ayah nggak mau tahu” ayah terus memaksa, padahal kan kan hp-ku masih utuh
***malamnya***
I-phone, iya, hp baruku ada logo apel digigit. Aku senang sekali.  Tapi tabunganku habis, padahal aku pengin banget beli nonton konsernya SHINee. Dasar! Kenapa kamu harus bohong sih Yura?
“ddrrrrtt” sms?
From: 08978675123
‘Selamat hp barunya! Dan juga nomer barunya! ^^’
siapa dia? Aku kan belum mengabari siapapun kalau nomer hpku ganti
From: Yura
To: 08978675123
‘kamu siapa?’
From: 08978675123
‘aku, tentu saja temanmu^^’
Sebentar, temanmu? 123? Tidak orang itu lagi!
From: Yura
To: 08978675123
‘kau tahu tidak gara-gara kau hp lamaku disita! Dan gara-gara kau juga tabunganku habis!!!! Kau tahu semua itu kalau dijumlah berapa?’ aku sebal
From: 08978675123
‘kenapa kau tak meminta sendiri dari Bu Reika?’
Hah? Dia, seperti tahu semua. Sudahlah, pengganggu mah nggak usah diurus. Mending tidur aja.
*sudut pandang author*
Setiap hari ‘123’ selalu mengirimi Yura berbagai pesan, tetapi Yura tidak pernah membalas. Dan Yura, sama sekali tidak penasaran dengan pengirim sms itu, Yura beranggapan bahwa si pengirim adalah spammer yang iseng mengirimi sms ke orang-orang.
Dua minggu telah berlalu, si pengirim telah bosan dan malas dengan sikap Yura, hingga akhirnya dia memberanikan diri untuk menelepon Yura, dengan private number tentunya. Sedangkan nomor lama Yura tidak aktif karena dia belum mengambil hp-nya.
“halo, selamat malam” sapa Yura
“slamat malam”
“kamu siapa?” tanya Yura penasaran
“temanmu”
“oh, si 123 itu ya, maaf” Yura enggan berbicara dengan si 123 pengirim pesan itu, sebenarnya Yura ingin berbicara lebih lama, tetapi dia terlanjur malas dengan si 123.
“siaaaallllll” maki si 123 pada dirinya sendiri saat Yura menutup telepon
***senin pagi: Sudut Pandang Yura***
“yeah, pelajaran olahraga” yura teriak senang karena dia bensi dengan pelaaran ilmu pasti, dia lebih menyukai pelajaran musik dan olahraga.
“Yura, tolong ambilkan bola itu” suruh seorang anak laki-laki dari kelas lain yang sedang di lapangan.
“yang mana?” tanyaku
“yang ada di sebelah kirimu itu, bola basket”
“oh ya” aku langsung mengambil bola di sampingku itu, tapi mendadak anak laki-laki itu sudah di depanku.
“maaf, sepertinya aku terlalu merepotkanmu” ujar laki-laki itu sambil mengambil bola dari tanganku. Tak heran jika aku kaget, dan saat aku mendongak ke atas untuk melihat wajahnya, ternyata dia tersenyum, sangat manis. Rasanya seperti jiwaku melayang entah dimana, sepertinya terlalu tinggi hingga awan-awan di langit mampu mangantarku terbang bersama pelangi (?).

maaf kalo aneh, dan banyak typo, mohon bantuannya buat baca (ngomong sama makhluk halus)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar